7/27/2011
Cinta itu...
7/20/2011
Hello xi social1 =)
7/07/2011
Ruang Penuh Kata
Kamu...
Kamu...
Siapa yang kalian bayangkan?
Harry Potter dengan tongkat sihirnya?
Yang siap membasmi dementor hanya untukku?
Bukan. Itu bukan kamu.
Kamu...
Siapa yang kalian bayangkan?
Edward Cullen dengan ketampanannya?
Yang rela melakukan apa saja demi aku?
Bukan. Itu bukan kamu.
Kamu...
Siapa yang kalian bayangkan?
Pangeran William dengan segala kekayaannya?
Yang dengan gratis akan memberikanku sebongkah emas?
Bukan. Itu bukan kamu.
Kamu...
Hanyalah pelajar berseragam abu-abu biasa.
Bukan Harry Potter,Edward Cullen atau Pangeran William.
Tapi kamu adalah kamu.
Kamu dengan keunikan tersendiri.
Yang dengan alamiahnya menarik perhatianku.
Kamu...
Ini hanya untukmu.
Agar setidaknya kau mengerti,
begitu sering ‘kamu’ berputar di benakku.
Kamu...
Bukanlah Harry Potter,Edward Cullen atau Pangeran William.
Tapi hebatnya,kamu dengan heroiknya dapat merebut hatiku.
Tanpa tongkat,tampan atau emas.
Dan aku akan selalui mencintai kamu.
Karena kamu adalah kamu.
PS:
Hatiku telah kau rebut. Tolong jangan dikembalikan lagi ya;)
Parade dan Kamu
Parade hari pertama. Menghadap aula,panas menyengatnya matahari membakar punggungku. Mataku melirik ke kanan kiri,melihat ke arah kantin lalu memandangi beberapa orang yang berlalu lalang sembari membawa bermacam jenis es di tangan mereka. Menyeruputnya dengan keras,seakan menggoda kami para peserta OLS. Keringat berceceran ingin ku seka,tapi sedang parade. PARADE. Berdiri tegak diam tanpa melakukan apa-apa. Rasa panas,haus,lapar makin membuatku sebal.
Tiba-tiba segerombol laki-laki lewat,seseorang diantara mereka membuatku terpana. Padahal ia berjalan paling belakang,dia pun tidak tampan tapi....ada sesuatu yang membuatku senang memandangnya. Rasa lapar,haus,panas dan mengantuk menguap entah kemana. Dia dan gengnya berjalan melewatiku,dia menoleh padaku. Seperti sadar aku memerhatikannya sedari tadi,ah rasanya wajahku memerah. Dia tersenyum,manis sekali. Dan bodohnya,aku justru menunduk.
Saat aku sadar kebodohanku,dia pun telah berlalu. Aku hanya berharap dia akan lewat lagi untuk membeli berplastik-plastik minuman. Dengan konyolnya,aku berharap dia memperlambat kecepatan berjalannya hanya karena berharap aku bisa memandangi punggungnya. Konyol bukan?
***
Parade hari kedua. Menghadap aula (lagi) dan berharap mas es teh (mas yang kemarin tersenyum kepadaku) itu akan lewat lagi seperti hari sebelumnya. Aku memanggilnya mas es teh karena diantara kelima temannya,hanya dia yang membeli es teh. Sebuah keunikan tersendiri bagiku.
3 menit parade berlangsung namun mas es teh belum menampakan batang hidungnya. Aku mulai gelisah. Aku jatuh cinta? Mungkin ya,mungkin tidak. Aku hanya ingin melihat senyumannya lagi,pasti akan menjadi batu baterei untukku sehingga aku bisa lebih semangat.
5 menit parade. Ya Tuhan,dia hilang entah kemana. Aku rindu senyumnya.
10 menit parade,aku sudah kehilangan semangat. Aku menengok pelan ke kanan ke kiri. Ada orang yang sedang berjalan,ada yang minum,ada yang makan,ada yang mengobrol,ada yang wudhu,ada yang memakai sepatu di depan mushola,ada yang... Stop,sepertinya aku mengenalnya. Aku mengerutkan keningku,mencoba untuk melihat wajah itu lebih jelas.
Pada menit ke-11 parade,aku berhasil menemukan mas es tehku. Dia baru selesai beribadah,wajahnya cerah sekali,merona. Dia memakai sepatu sambil mengobrol dan tertawa kecil bersama teman-temannya. Untuk yang kedua kalinya,senyumnya menyemangatiku lagi. Walaupun sebenarnyanya senyum itu bukan ditujukan kepadaku tapi aku bahagia. Melihat senyumnya membuatku ikut tersenyum.
***
Parade dan OLS hari terakhir. Masih menghadap aula seperti biasa. Kamu sang mas es teh bersama gerombolanmu sedang duduk manis di depan aula menonton kami sambil tertawa, mengobrol, menunjuk-nunjuk kami seakan kami adalah film kartun dan kalian adalah penonton berusia 3tahun.
Parade selesai,panitia menyiram kami dengan berember air bunga. Kalian menertawakan kami. Aku tersenyum bahagia,akhirnya ini semua berakhir dan mungkin..aku bisa bertemu dengan mas es teh di lain waktu,selain saat parade. Mas es teh dan teman-temannya pergi ke kantin. Aku dan teman seangkatanku bubar,kebanyakan dari kami ke kantin membeli minum. Aku pun begitu,membeli minum dan ingin bertemu orang yang ku kagumi selama 3hari ini.
Sesampai di kantin,aku terkejut. Kau tidak sedang bersama gerombolanmu lagi,tapi bersama seseorang gadis cantik berambut sebahu. Kau tersenyum amat manis,memamerkan gigimu padanya. Kau membagi es tehmu dengan gadis itu.
Detik itu aku sadar,kau hanyalah mas es tehku dikala parade. Parade lah yang menghidupkanmu. Di luar parade,aku harus terima bahwa kamu adalah kamu. Bukan mas es tehku.
Aku hanya bisa diam,memandangmu,mengagumimu dari jauh. Menjadi pengagum rahasia,aku janji tak akan ada seorangpun yang akan mengetahui perasaan ini. Terasa sesak memang hatiku tapi aku senang melihatmu dapat membagi senyum dengan seseorang.
Oh ya. Hai mas es teh. Ternyata parade dan kamu memiliki suatu kemiripan. Sama-sama membuatku berdiri terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa.
7/05/2011
Sebuah benda yang disebut pita nyawa
Den Haag,4 Oktober 2011
Dari sebuah jendela terlihat seorang gadis sedang mengobrak-abrik isi laci putih kecil di atas mejanya. Wajahnya menyiratkan kekesalan,mencari sesuatu yang belum berhasil ditemukannya. Syal coklat yang dililitkan di lehernya mulai basah,ternoda keringat walaupun disana musim dingin melanda.
“Syaaaaa,what are you doing? HURRY!”teriak seseorang dari lantai bawah kepada gadis bersyal coklat.
“Wait for me,mom. I’m still looking for my new hair tie”jawabnya sambil sedikit berteriak. Dia masih mencari,mengobrak-abrik isi lacinya. Tiba-tiba gerakannya terhenti saat melihat suatu barang kecil berwarna ungu,matanya memerah seperti hendak menangis,ia memikirkan sesuatu. Flashback....
***
Cirebon,24 Juni 2011
“Kalian semua disini satu angkatan,kalian satu keluarga disini. Liat ada temen kalian dikasih hukuman,kalian gak bantu hah? Mana kekeluargaan kalian?!!”teriak seorang laki-laki yang memakai ID Card hijau.
“Tasya!” ujarnya sambil setengah berteriak.
“Siap!”jawabku
“Kamu liat ada temen kamu di depan sana? Kenapa kamu ga bantu dia? Dia temen kamu,keluarga kamu sendiri!”
“Hm siap mas tapi menurut saya sendiri,dia memang berbuat kesalahan jadi untuk apa saya membela yang salah? Memang kesalahan dia sendiri kehilangan pita nyawa”jawabku pelan,agak ragu.
“Dia emang salah,pita nyawa emang penting tapi apa kamu yakin kehilangan pita nyawa harus diganti konsekuensi push up 50kali? Walaupun dia salah,seengganya kamu bisa bantu dia untuk ngeringanin hukuman. Sekarang juga kamu bantu temen kamu itu,cepet balik kanan,maju ke depan” aku mengikuti perintahnya untuk maju menuju kakak panitia.
“Interupsi mba,saya mau ngebantu temen saya. Saya mau ngeringanin hukuman dia,walaupun emang dia salah tapi menurut saya kesalahan ‘tanpa pita nyawa’ ngga sebanding dengan push up 50kali”ucapku tegas. Mba panitia berID Card merah itu langsung menengok ke arahku. Badanku bergidik ngeri.
“Oh sok pahlawan ya kamu? Coba liat kamu sendiri bener ga? Papan nama aja masih digunting,ko sok pahlawan. Kamu ngerasa bener? Apa kamu....”ucapannya terhenti.
“PANITIA CUKUP! Semua panitia diharap kembali ke sumber suara,akan diadakan apel sore sekaligus penutupan”teriak ketua Osis. Mba berID Card merah itu pun tersenyum tipis,lalu meninggalkan kami. Sungguh,teriakan ketua Osis itu benar-benar layaknya panggilan surga. Mas-mba panitia pun berjalan ke arah sumber suara.
“Eh makasih ya”ucap perempuan yang tadi hendak ku bela,tersenyum padaku. Aku hanya tersenyum lalu kembali ke barisan.
Apel penutupan pun dimulai,matahari pada pukul 4sore itu tidak terasa panas. Awan mendung menutupinya,angin yang sepoi-sepoi pun menyejukkan. Membuat rambut para gadis-gadis SMA berkepang 13 ini terangkat angin perlahan.
Apel selesai. Tiba-tiba dari lantai atas,beberapa orang menyiram ember-ember penuh berisi air bunga. Sebagai tanda,bahwa acara ini telah selesai. Kami telah berhasil dididik menjadi calon manusia yang lebih bertanggung jawab,lebh berjiwa pemimpin. Para panitia berID Card merah,biru dan hijau tersenyum sambil bertepuk tangan pada kami semua,seangkatan. Wajah mereka benar-benar terlihat bangga.
“AYO SEMUA KUMPUL DI LAPANGAN! KITA TOS”teriak salah seorang panitia. Kami semua langsung berlari ke tengah lapangan layaknya semut yang mengerubungi gula. Dengan bangga,kami teriakan “VIVA SMANDA!!!”
Gerombolan itu mulai memencar,kebanyakan ke kantin membeli minum. Aku? Aku langsung berlari mencari teman-teman sekelasku. Kami semua berpelukan,erat,sangat erat. Kami sadar,ini adalah momen-momen terakhir kami melakukan hal bersama-sama. Bersama keluarga sepuluh lima atau yang biasa kami sebut MTV (Member of Ten fiVe). Awalnya kita hanya berpelukan,tertawa-tawa,hingga...
“Bentar lagi kita pisah kelas,pasti aneh rasanya”Lala bergumam sedih. Pelukan terlepas. Teman-teman lain pun menimpali dengan sedih juga atau menghibur. Ramai sekali.
“Kalian bakal pisah kelas ya? Tasya bakalan pisah sekolah sama kalian”ucapku pelan namun tampaknya mereka semua mendengar. Mereka semua diam,aku hanya tersenyum getir.
Mereka memelukku lagi,lebih erat dari sebelumnya. Lebih sepi dari sebelumnya. Aku pun diam. Aku bukan seorang mind-reader yang bisa membaca alasan mereka terdiam. Tapi aku? Aku diam karna aku tau,ini pelukan terakhir mereka. Ini tawa dan tangisku yang terakhir bersama mereka,setelah ini mungkin tak ada aku lagi. Mungkin hanya akan ada Lala, Tika, Diya, Rina, Manda, Tama, Ramadhan dan Sakti sebagai grup hura-hura di kelas. Grup hura-hura tanpa aku. Mungkin kelas sepuluh lima hanya diingat sebagai kelas bermurid 29 orang,bukan 30. Tanpa aku.
Kau tau apa yang menyakitkan dari sebuah perpisahan? Dilupakan.
***
Flashback berhenti...
Mata gadis itu mengerjap-ngerjap,membuat bulir air matanya jatuh perlahan. Dia mengambil barang kecil itu dari lacinya lalu bangkit. Ia meraih sisir lalu mulai mengikat rambut tipisnya sambil menghadap ke cermin.
“Tasyaaaaa,come on!” teriak seseorang dari lantai bawah.
“Yes Mom,wait a minute”
‘Gue udah ga di smanda tapi hati gak bisa boong,gue masih sayang banget sama smanda. Gue harap dengan benda ini gue ga akan lupa sama smanda dan semua kenangannya. Begitu pula mereka semua,semoga ga lupa sama gue’
Gadis itu tersenyum,memasangkan benda itu di rambutnya.Sebuah benda yang disebut pita nyawa. Lalu tersenyum bangga sambil menggumam “Viva Smanda!”7/02/2011
NEW ^^
By the way,silahkan menikmati postingan baru dgn label #penulismanda ya. Enjoy it;)
