12/21/2011
Hasil karya anak bangsa^^
12/16/2011
12/13/2011
Music Project wuhuuu!!!
12/01/2011
Hujan
11/26/2011
11/20/2011
Rain dan Hujan
Nafasku terengah namun aku terus berlari,tak peduli walaupun air mataku masih berceceran. Tak peduli berapa puluh kali aku hampir terjerembab akibat licinnya jalan yang disebabkan oleh tetesan air yang turun berhamburan dari langit. Wajahku pucat pasi,basah kuyup entah oleh keringat,air mata atau hujan,sudah benar-benar tidak bisa ku bedakan. Aku hanya ingin segera menghindar dari hujan yang memuakkan ini. Hanya satu tempat yang dapat membuatku kembali tenang,kamar kostku yang sempit namun menawan.
Belok kiri lalu aku pun melihat rumah bercat kuning yang mulai mengelupas lapisannya dan didepannya terdapat plang yang cukup besar bertuliskan ‘Kost Khusus Wanita’. Aku langsung membuka pintu rumah lalu berlari menaiki tangga menuju kamarku di lantai atas. Terdengar sayup-sayup suara ibu kost yang memanggil namaku,mungkin beliau khawatir melihat keadaanku sepintas tadi. Setelah sampai kamar,aku duduk di kursi di depan jendela tanpa mengganti baju atau apalah itu. Aku hanya menatap hujan dengan penuh benci,air mata yang berlinang dan badan yang basah sebasah-basahnya lalu terbengong.
Ya,akulah salah satu dari segelintir orang yang membenci hujan. Semua orang biasa memanggilku Rain,kependekan dari Raina Putri. Saat orang mendengar namaku,pasti akan berpikir bahwa aku menyukai hujan. Memang,aku memang pernah mencintai hujan tapi hal-hal yang terjadi setahun yang lalu benar-benar membuatku tidak lagi ingin berdekatan dengannya.
Aku punya tiga alasan,sebutlah tiga poin ceritaku tentang hujan. Hujan yang merengut hidupku.
Satu. Aku kehilangan adik laki-lakiku saat hujan. Pada suatu sore dia mengajakku bermain sepeda di depan rumah,saat kami sedang bermain tiba-tiba turun hujan deras. Aku mengajak adikku masuk tapi dia tidak mau,aku berhenti bermain sepeda lalu aku hanya mengawasinya di teras sedangkan dia bermain sepeda di depan rumah. Rumahku tidak terletak di pinggir jalan raya,tidak pula di real-estate yang mewah. Hanya di semacam jalan yang cukup kecil namun kendaraan roda dua dan empat cukup ramai melewati daerah depan rumahku. Kau pasti bisa menebak apa yang terjadi bukan? Ya,dia tertabrak mobil kijang hitam dengan kecepatan 100 km/jam. Dan aku merasa menjadi orang tertolol yang pernah ada di muka bumi. Bagaimana kau bisa mempercayai anak berusia 8 tahun yang bersepeda di jalan yang cukup ramai? Sejak kejadian itu,papa dan mama selalu menyalahkan aku. Aku tau aku tolol membiarkannya sendiri tapi aku pun shock akan tragedi itu. Aku juga butuh support,aku pun terpukul layaknya mereka. Aku pun tidak menyengaja agar semua ini terjadi,mungkin ini memang takdir Tuhan. Tapi,mereka memang tidak pernah mengerti. Bahkan sekedar belajar mengertiku pun tidak.
Dua. Papa dan mama tidak pernah lagi memberiku kasih sayang,semua pemberian hanya berupa uang,barang,makanan. Tidak ada lagi peluk,cium,ungkapan ‘i love you’ seperti dulu. Dua bulan setelah tragedi itu,papa dan mama pindah ke Australia tanpa mengajakku. Mereka bilang hanya liburan selama seminggu tapi mereka tak pulang-pulang. Selama disini aku tinggal di rumahku lalu bersekolah seperti biasa,masih ada pembantu dan supir yang mengurusku. Aku masih menunggu mereka pulang atau sekedar menelepon untuk menanyakan kabarku. Akhirnya pada bulan kedua setelah mereka pergi,aku sadar bahwa mereka memang tidak ingin lagi berjumpa denganku atau bahasa kasarnya adalah mereka membuangku. Malam itu aku mengemasi barang-barangku,membawa sedikit persediaan makan,minum dan uang lalu pergi dengan harga diriku yang tersisa. Aku memang luntang-lantung malam itu karna pada dasarnya aku tidak mempunyai tujuan. Dan kau tau? Malam itu pun hujan cukup deras,hingga aku berteduh di warung kecil untuk membeli segelas teh hangat. Aku bertemu ibu tua yang lalu memberikanku sebuah kertas kecil berisi alamat kost,tempatku tinggal sekarang.
Tiga. Sebulan yang lalu mama mengabariku dan berkata bahwa mereka rindu padaku. Mereka baru menyadari bahwa tindakan mereka selama ini meninggalkanku itu merupakan suatu kesalahan. Mereka bilang,besok mereka akan berangkat ke Jakarta lalu memulai bab baru denganku,tanpa menengok ke belakang untuk sekedar menyesali masa lalu. Hidup kami akan normal kembali layaknya keluarga bahagia dalam sinetron,aku pun akan pindah dari tempat kost ini. Entah apa salahku sehingga hujan sangat senang mengobrak-abrik hidupku,mengoyak harap dan mimpiku. Pesawat yang ditumpangi mereka terbang dalam keadaan buruk,hujan deras di luar yang membuat pesawat sedikit limbung dan adanya kabut tebal dan ya,pesawat mereka jatuh. Tak seorang pun selamat,begitu pula dengan kedua orang tuaku. Sejak saat itu aku amat amat sangat membenci hujan,wajar kan? Hujan hanya membawa kesialan.
Namun,2 minggu yang lalu seorang laki-laki bernama Delon menyatakan cinta padaku di tengah hujan deras. Aku mulai berpikir bahwa Delon adalah rencana indah Tuhan. Dibalik suatu kesulitan pasti ada kebahagiaan. Sejak itu,Delon adalah pelangi dalam kabut gelapku. Orang yang membawa warna-warna baru kebahagiaan di tengah hidupku yang kelabu. Dan dia pula orang yang membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada hujan.
“Raina,maaf ibu masuk kamar Rain gak izin dulu. Ibu khawatir”. Ucapan seseorang membuyarkan segala lamunanku. Aku kaget lalu menoleh ke belakang,ibu kostku sudah ada di ambang pintu kamarku. Dia menutup pintu kamar lalu berjalan menghampiriku. Dia duduk disebelahku. Aku hanya tersenyum tipis yang sedikit dipaksakan.
“Kamu kenapa nak? Belakangan ini ibu bahagia banget liat Rain bisa bahagia,bisa senyum tapi kenapa sekarang Raina begini lagi?”. Aku segera memeluknya erat sambil menangis,dialah orang yang kuanggap mamaku,yang kuanggap penyemangat hidupku semenjak setahun lalu aku kehilangan orang tua asliku.
Aku menceritakan kejadian hari ini pada bu Tita,ibu kostku ini. Saat aku datang ke kost Delon tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Niatku untuk memberinya surprise karna aku membawakan puding cokelat favoritnya namun ternyata akulah yang kaget. Aku melihat kekasihku sedang memeluk seorang gadis dengan erat,tangannya dengan lihai menyibakkan poni pendek dari keningnya lalu mencium kening gadis itu. Gadis itu memang cantik,kulit langsat dan rambut hitam yang tergerai sangatlah cocok dengan tubuhnya yang sedikit lebih berisi dariku. Matanya bersinar memancarkan kebahagiaan,wajar menurutku apabila Delon mencintai gadis cantik itu.
Tak kuat lagi membendung air mata,tidak sengaja aku menangis pelan di depan pintu kamar Delon. Mereka melihatku,gadis itu melihatku dengan tatapan aneh dan bingung sedangkan Delon,dia melihatku dengan tatapan menyesal dan sedikit bingung dengan semua ini. Aku pun berlari keluar dari tempat itu,kuharap Delon akan mengejarku,meminta maaf,menjelaskan bahwa ini hanya salah paham,memohon maafku hingga bersujud. Namun ternyata tidak,tidak ada siapapun menyusuri langkahku dari belakang. Hanya terdengar suara hujan yang memang sedang turun dengan cukup deras,seakan-akan menertawaiku bahwa dia berhasil menghancurkan hidupku yang mulai ku tata kembali. Ku putuskan bahwa hujan akan kembali menjadi lawanku.
Bu Tita memelukku erat,seakan dia bisa merasakan luka yang kurasakan. “Nak,semua masalah harus diselesaikan secara baik-baik. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat kamu nak,jangan sedih ya. Jangan salahin hujan,jangan juga salahin diri kamu sendiri. Ini semua Cuma kebahagiaan kamu yang tertunda”
“Terus sekarang Raina harus apa bu? Raina bingung,apa yang harus Raina lakuin?”jawabku terisak.
“Yakinin di hati kamu,kebahagiaan apa yang mau kamu raih? Usahakan agar keinginan kamu terpenuhi,agar Rain bahagia lagi”.
“Raina mau bisa kumpul sama Papa,Mama sama adenya Raina bu. Waktu masih ada mereka,Raina bahagia. Raina mau usaha biar keinginan Raina terpenuhi. Raina sayang ibu selamanya,makasih atas semuanya bu”.
Aku segera berjalan cepat ke balkon lalu melemparkan tubuhku sendiri ke bawah. Terdengar suara ibu Tita berteriak histeris memanggil namaku. Suara dentuman keras mengakhiri jatuh bebasku dari lantai tiga dan ada suatu nyeri yang amat sangat pada bagian punggungku. Pandanganku mulai buram sedikit demi sedikit,nafasku mulai melemah.
Hal terakhir yang kutahu,aku mendengar salah seorang teman kostku menelpon ambulans dan aku melihat wajah bu Tita yang membuatku nyaman. Dia duduk di tanah lalu membopong kepalaku di pahanya. Ia berteriak meminta tolong,ia menangisiku.
“Bu,aku bahagia nanti bisa kumpul lagi sama keluarga. Rain juga udah gak benci hujan. Ibu jangan sedih,Raina bahagia ko. Raina sayang ibu”ucapku terbata-bata lalu mendadak pandanganku menghitam,gelap. Dan sore itu,kisahku dengan hujan pun berakhir.
11/01/2011
31 Oktober 2011
10/21/2011
Selamat pagi,Cirebon!
10/13/2011
10/11/2011
11 Oktober 2011
8/29/2011
8/24/2011
5 tweets being 1 blogpost;)
8/18/2011
Kratak...
8/14/2011
14 Agustus 2011
8/13/2011
Alasan^^
7/27/2011
Cinta itu...
7/20/2011
Hello xi social1 =)
7/07/2011
Ruang Penuh Kata
Kamu...
Kamu...
Siapa yang kalian bayangkan?
Harry Potter dengan tongkat sihirnya?
Yang siap membasmi dementor hanya untukku?
Bukan. Itu bukan kamu.
Kamu...
Siapa yang kalian bayangkan?
Edward Cullen dengan ketampanannya?
Yang rela melakukan apa saja demi aku?
Bukan. Itu bukan kamu.
Kamu...
Siapa yang kalian bayangkan?
Pangeran William dengan segala kekayaannya?
Yang dengan gratis akan memberikanku sebongkah emas?
Bukan. Itu bukan kamu.
Kamu...
Hanyalah pelajar berseragam abu-abu biasa.
Bukan Harry Potter,Edward Cullen atau Pangeran William.
Tapi kamu adalah kamu.
Kamu dengan keunikan tersendiri.
Yang dengan alamiahnya menarik perhatianku.
Kamu...
Ini hanya untukmu.
Agar setidaknya kau mengerti,
begitu sering ‘kamu’ berputar di benakku.
Kamu...
Bukanlah Harry Potter,Edward Cullen atau Pangeran William.
Tapi hebatnya,kamu dengan heroiknya dapat merebut hatiku.
Tanpa tongkat,tampan atau emas.
Dan aku akan selalui mencintai kamu.
Karena kamu adalah kamu.
PS:
Hatiku telah kau rebut. Tolong jangan dikembalikan lagi ya;)
Parade dan Kamu
Parade hari pertama. Menghadap aula,panas menyengatnya matahari membakar punggungku. Mataku melirik ke kanan kiri,melihat ke arah kantin lalu memandangi beberapa orang yang berlalu lalang sembari membawa bermacam jenis es di tangan mereka. Menyeruputnya dengan keras,seakan menggoda kami para peserta OLS. Keringat berceceran ingin ku seka,tapi sedang parade. PARADE. Berdiri tegak diam tanpa melakukan apa-apa. Rasa panas,haus,lapar makin membuatku sebal.
Tiba-tiba segerombol laki-laki lewat,seseorang diantara mereka membuatku terpana. Padahal ia berjalan paling belakang,dia pun tidak tampan tapi....ada sesuatu yang membuatku senang memandangnya. Rasa lapar,haus,panas dan mengantuk menguap entah kemana. Dia dan gengnya berjalan melewatiku,dia menoleh padaku. Seperti sadar aku memerhatikannya sedari tadi,ah rasanya wajahku memerah. Dia tersenyum,manis sekali. Dan bodohnya,aku justru menunduk.
Saat aku sadar kebodohanku,dia pun telah berlalu. Aku hanya berharap dia akan lewat lagi untuk membeli berplastik-plastik minuman. Dengan konyolnya,aku berharap dia memperlambat kecepatan berjalannya hanya karena berharap aku bisa memandangi punggungnya. Konyol bukan?
***
Parade hari kedua. Menghadap aula (lagi) dan berharap mas es teh (mas yang kemarin tersenyum kepadaku) itu akan lewat lagi seperti hari sebelumnya. Aku memanggilnya mas es teh karena diantara kelima temannya,hanya dia yang membeli es teh. Sebuah keunikan tersendiri bagiku.
3 menit parade berlangsung namun mas es teh belum menampakan batang hidungnya. Aku mulai gelisah. Aku jatuh cinta? Mungkin ya,mungkin tidak. Aku hanya ingin melihat senyumannya lagi,pasti akan menjadi batu baterei untukku sehingga aku bisa lebih semangat.
5 menit parade. Ya Tuhan,dia hilang entah kemana. Aku rindu senyumnya.
10 menit parade,aku sudah kehilangan semangat. Aku menengok pelan ke kanan ke kiri. Ada orang yang sedang berjalan,ada yang minum,ada yang makan,ada yang mengobrol,ada yang wudhu,ada yang memakai sepatu di depan mushola,ada yang... Stop,sepertinya aku mengenalnya. Aku mengerutkan keningku,mencoba untuk melihat wajah itu lebih jelas.
Pada menit ke-11 parade,aku berhasil menemukan mas es tehku. Dia baru selesai beribadah,wajahnya cerah sekali,merona. Dia memakai sepatu sambil mengobrol dan tertawa kecil bersama teman-temannya. Untuk yang kedua kalinya,senyumnya menyemangatiku lagi. Walaupun sebenarnyanya senyum itu bukan ditujukan kepadaku tapi aku bahagia. Melihat senyumnya membuatku ikut tersenyum.
***
Parade dan OLS hari terakhir. Masih menghadap aula seperti biasa. Kamu sang mas es teh bersama gerombolanmu sedang duduk manis di depan aula menonton kami sambil tertawa, mengobrol, menunjuk-nunjuk kami seakan kami adalah film kartun dan kalian adalah penonton berusia 3tahun.
Parade selesai,panitia menyiram kami dengan berember air bunga. Kalian menertawakan kami. Aku tersenyum bahagia,akhirnya ini semua berakhir dan mungkin..aku bisa bertemu dengan mas es teh di lain waktu,selain saat parade. Mas es teh dan teman-temannya pergi ke kantin. Aku dan teman seangkatanku bubar,kebanyakan dari kami ke kantin membeli minum. Aku pun begitu,membeli minum dan ingin bertemu orang yang ku kagumi selama 3hari ini.
Sesampai di kantin,aku terkejut. Kau tidak sedang bersama gerombolanmu lagi,tapi bersama seseorang gadis cantik berambut sebahu. Kau tersenyum amat manis,memamerkan gigimu padanya. Kau membagi es tehmu dengan gadis itu.
Detik itu aku sadar,kau hanyalah mas es tehku dikala parade. Parade lah yang menghidupkanmu. Di luar parade,aku harus terima bahwa kamu adalah kamu. Bukan mas es tehku.
Aku hanya bisa diam,memandangmu,mengagumimu dari jauh. Menjadi pengagum rahasia,aku janji tak akan ada seorangpun yang akan mengetahui perasaan ini. Terasa sesak memang hatiku tapi aku senang melihatmu dapat membagi senyum dengan seseorang.
Oh ya. Hai mas es teh. Ternyata parade dan kamu memiliki suatu kemiripan. Sama-sama membuatku berdiri terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa.
7/05/2011
Sebuah benda yang disebut pita nyawa
Den Haag,4 Oktober 2011
Dari sebuah jendela terlihat seorang gadis sedang mengobrak-abrik isi laci putih kecil di atas mejanya. Wajahnya menyiratkan kekesalan,mencari sesuatu yang belum berhasil ditemukannya. Syal coklat yang dililitkan di lehernya mulai basah,ternoda keringat walaupun disana musim dingin melanda.
“Syaaaaa,what are you doing? HURRY!”teriak seseorang dari lantai bawah kepada gadis bersyal coklat.
“Wait for me,mom. I’m still looking for my new hair tie”jawabnya sambil sedikit berteriak. Dia masih mencari,mengobrak-abrik isi lacinya. Tiba-tiba gerakannya terhenti saat melihat suatu barang kecil berwarna ungu,matanya memerah seperti hendak menangis,ia memikirkan sesuatu. Flashback....
***
Cirebon,24 Juni 2011
“Kalian semua disini satu angkatan,kalian satu keluarga disini. Liat ada temen kalian dikasih hukuman,kalian gak bantu hah? Mana kekeluargaan kalian?!!”teriak seorang laki-laki yang memakai ID Card hijau.
“Tasya!” ujarnya sambil setengah berteriak.
“Siap!”jawabku
“Kamu liat ada temen kamu di depan sana? Kenapa kamu ga bantu dia? Dia temen kamu,keluarga kamu sendiri!”
“Hm siap mas tapi menurut saya sendiri,dia memang berbuat kesalahan jadi untuk apa saya membela yang salah? Memang kesalahan dia sendiri kehilangan pita nyawa”jawabku pelan,agak ragu.
“Dia emang salah,pita nyawa emang penting tapi apa kamu yakin kehilangan pita nyawa harus diganti konsekuensi push up 50kali? Walaupun dia salah,seengganya kamu bisa bantu dia untuk ngeringanin hukuman. Sekarang juga kamu bantu temen kamu itu,cepet balik kanan,maju ke depan” aku mengikuti perintahnya untuk maju menuju kakak panitia.
“Interupsi mba,saya mau ngebantu temen saya. Saya mau ngeringanin hukuman dia,walaupun emang dia salah tapi menurut saya kesalahan ‘tanpa pita nyawa’ ngga sebanding dengan push up 50kali”ucapku tegas. Mba panitia berID Card merah itu langsung menengok ke arahku. Badanku bergidik ngeri.
“Oh sok pahlawan ya kamu? Coba liat kamu sendiri bener ga? Papan nama aja masih digunting,ko sok pahlawan. Kamu ngerasa bener? Apa kamu....”ucapannya terhenti.
“PANITIA CUKUP! Semua panitia diharap kembali ke sumber suara,akan diadakan apel sore sekaligus penutupan”teriak ketua Osis. Mba berID Card merah itu pun tersenyum tipis,lalu meninggalkan kami. Sungguh,teriakan ketua Osis itu benar-benar layaknya panggilan surga. Mas-mba panitia pun berjalan ke arah sumber suara.
“Eh makasih ya”ucap perempuan yang tadi hendak ku bela,tersenyum padaku. Aku hanya tersenyum lalu kembali ke barisan.
Apel penutupan pun dimulai,matahari pada pukul 4sore itu tidak terasa panas. Awan mendung menutupinya,angin yang sepoi-sepoi pun menyejukkan. Membuat rambut para gadis-gadis SMA berkepang 13 ini terangkat angin perlahan.
Apel selesai. Tiba-tiba dari lantai atas,beberapa orang menyiram ember-ember penuh berisi air bunga. Sebagai tanda,bahwa acara ini telah selesai. Kami telah berhasil dididik menjadi calon manusia yang lebih bertanggung jawab,lebh berjiwa pemimpin. Para panitia berID Card merah,biru dan hijau tersenyum sambil bertepuk tangan pada kami semua,seangkatan. Wajah mereka benar-benar terlihat bangga.
“AYO SEMUA KUMPUL DI LAPANGAN! KITA TOS”teriak salah seorang panitia. Kami semua langsung berlari ke tengah lapangan layaknya semut yang mengerubungi gula. Dengan bangga,kami teriakan “VIVA SMANDA!!!”
Gerombolan itu mulai memencar,kebanyakan ke kantin membeli minum. Aku? Aku langsung berlari mencari teman-teman sekelasku. Kami semua berpelukan,erat,sangat erat. Kami sadar,ini adalah momen-momen terakhir kami melakukan hal bersama-sama. Bersama keluarga sepuluh lima atau yang biasa kami sebut MTV (Member of Ten fiVe). Awalnya kita hanya berpelukan,tertawa-tawa,hingga...
“Bentar lagi kita pisah kelas,pasti aneh rasanya”Lala bergumam sedih. Pelukan terlepas. Teman-teman lain pun menimpali dengan sedih juga atau menghibur. Ramai sekali.
“Kalian bakal pisah kelas ya? Tasya bakalan pisah sekolah sama kalian”ucapku pelan namun tampaknya mereka semua mendengar. Mereka semua diam,aku hanya tersenyum getir.
Mereka memelukku lagi,lebih erat dari sebelumnya. Lebih sepi dari sebelumnya. Aku pun diam. Aku bukan seorang mind-reader yang bisa membaca alasan mereka terdiam. Tapi aku? Aku diam karna aku tau,ini pelukan terakhir mereka. Ini tawa dan tangisku yang terakhir bersama mereka,setelah ini mungkin tak ada aku lagi. Mungkin hanya akan ada Lala, Tika, Diya, Rina, Manda, Tama, Ramadhan dan Sakti sebagai grup hura-hura di kelas. Grup hura-hura tanpa aku. Mungkin kelas sepuluh lima hanya diingat sebagai kelas bermurid 29 orang,bukan 30. Tanpa aku.
Kau tau apa yang menyakitkan dari sebuah perpisahan? Dilupakan.
***
Flashback berhenti...
Mata gadis itu mengerjap-ngerjap,membuat bulir air matanya jatuh perlahan. Dia mengambil barang kecil itu dari lacinya lalu bangkit. Ia meraih sisir lalu mulai mengikat rambut tipisnya sambil menghadap ke cermin.
“Tasyaaaaa,come on!” teriak seseorang dari lantai bawah.
“Yes Mom,wait a minute”
‘Gue udah ga di smanda tapi hati gak bisa boong,gue masih sayang banget sama smanda. Gue harap dengan benda ini gue ga akan lupa sama smanda dan semua kenangannya. Begitu pula mereka semua,semoga ga lupa sama gue’
Gadis itu tersenyum,memasangkan benda itu di rambutnya.Sebuah benda yang disebut pita nyawa. Lalu tersenyum bangga sambil menggumam “Viva Smanda!”



