3/08/2012

Album lama:")

Abis bongkar album foto di laptop dan tau-tau galau abis-abisan. Kangen! Kalo kata d'massive sih 'rindu setengah mati' tapi seriusan emang kangen. Kangen smanda, jurnalistik smanda, smanda golden voice, sebelas ips-1, SEPULUH LIMA terutama para Inong dan tim hura-hura. Hah:")


Perpisahan sepuluh lima!



















Jurnalistik Smanda!

Smanda Golden Voice!




Surprise!






Cepuyuh-yima!






PTKS Smanda 2011



3/07/2012

Semua akan indah pada waktunya!

1.

“Mama, besok aku gimana?” Cessa mengguncangkan tubuh mamanya perlahan. Mama hanya menengok tanpa jawaban, seakan Cessa mengganggu aktifitas chatting mamanya dengan kawan-kawan arisannya itu. Lalu dengan segera, mama memalingkan pandangannya lagi.

“Maaaaaah please, bantu solusi dong. Ini kan salah mama juga yang telat ngurusin kepindahan aku, jadinya kan aku telat masuk sekolah seminggu. Belum kenal siapa-siapa juga ah mamaaaaa”. Cessa mencubit pelan lengan mama yang dibalas dengan tatapan yang kurang menyenangkan, mungkin itu efek dari cubitannya.

“Aduh jangan kaya anak kecil Ca. Mama udah beliin kamu seragam lengkap, buku pelajaran, alat-alat belajar kamu, nanti juga ada supir yang anter kamu bolak-balik ko jadi kamu gak usah pusing-pusing mikirin jurusan angkot”. Mama menjawab sambil sesekali matanya melirik ke arah handphone yang digenggam eratnya. “Lagipula, Cirebon itu kota kecil honeeey bahkan kabarnya mall disana yang emang beneran fasilitasnya bagus tuh cuma satu. Namanya tuh Garabe, Garasi... eh bukan gatau lah lupa mama yang jelas ada Ga - Ga gitu. Mallnya juga gak segede Chitos atau Grand Indonesia, setengahnya mungkin. Ada juga satu lagi yang kaya mall tapi belum selesai pembangunannya” lanjutnya yang membuat Cessa ternganga. Speechless.

Whaaaaat? Mall cuma setengah dari Chitos??? Gue betah gak ya disana nanti? Di Jakarta aja gue udah bosen sama semua mallnya, lah ini mall cuma satu. Berarti tiap minggu gue cuma bisa jalan ke tempat yang sama? Ya Tuhaaaan, kakek gue sih pengen banget gue sekeluarga tinggal di rumah lamanya kakek di Cirebon,ada-ada aja...

“Caca iiiiiiih,tadi ngamuk minta dikasih saran tapi mama daritadi ngoceh buat kamu eh kamu malah asik ngelamun”. Mama menjawil telinga Cessa pelan dan menerbangkan seluruh gerutuannya tadi.

“Maaf ma,cuma ngerenungin nasib aja. Gimana Caca nanti tanpa mall gede-gede yang udah biasa kita temuin di Jakarta? Masih shock mah”jawab Cessa sambil melamun tentang ‘masa depannya’ disana.

Mama hanya diam lalu mulai menggerakan jarinya di atas keypad handphone. Cessa pun ikut diam sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Terlihat gelap malam yang dihiasi titik-titik kecil yang terus bergerak, berasal dari lampu-lampu rumah yang terletak di pinggir rel kereta.

Cessa meneguk teh manisnya sampai habis lalu perlahan menyenderkan kepalanya ke kursi kereta sambil terus memandangi titik-titik lampu itu. Dia melihat flashback sahabat-sahabatnya yang sedang tersenyum, berganti dengan tawa riang anak-anak ekskul paduan suara yang dengan bangga mengangkatnya sebagai ketua mereka. Flashback itu berganti menjadi sosok tubuh seorang laki-laki yang sedang memakai celana jeans hitam panjang beserta Polo shirt putihnya sambil membawa sebuah mawar berwarna merah yang amat cantik sambil tersenyum manis

Cessa tersenyum miris. Dia adalah Agung, mantan pacar Cessa yang hubungannya berakhir karena jarak memisahkan. Apa aku merasa sedih, kehilangan dan rindu pada mereka semua? Pasti iyalah. Ada sejuta kebahagiaan dibalik seribu gedung pencakar langit yang baru saja ku tinggalkan. Yang entah apakah mungkin akan ku temukan lagi kebahagiaan yang sama.

Dan malam itu tanpa Cessa sadari, air matanya bergulir pelan, jatuh satu per satu di wajahnya tanpa hambatan. Dia pun menangis di dalam kereta.

Hatiku sedih.

Hatiku gundah.

Tak ingin pergi berpisah.

Hatiku bertanya.

Hatiku curiga.

Mungkinkah ku temui kebahagiaan seperti disini.

(Sherina – Lihatlah lebih dekat)