11/20/2011

Rain dan Hujan

Nafasku terengah namun aku terus berlari,tak peduli walaupun air mataku masih berceceran. Tak peduli berapa puluh kali aku hampir terjerembab akibat licinnya jalan yang disebabkan oleh tetesan air yang turun berhamburan dari langit. Wajahku pucat pasi,basah kuyup entah oleh keringat,air mata atau hujan,sudah benar-benar tidak bisa ku bedakan. Aku hanya ingin segera menghindar dari hujan yang memuakkan ini. Hanya satu tempat yang dapat membuatku kembali tenang,kamar kostku yang sempit namun menawan.

Belok kiri lalu aku pun melihat rumah bercat kuning yang mulai mengelupas lapisannya dan didepannya terdapat plang yang cukup besar bertuliskan ‘Kost Khusus Wanita’. Aku langsung membuka pintu rumah lalu berlari menaiki tangga menuju kamarku di lantai atas. Terdengar sayup-sayup suara ibu kost yang memanggil namaku,mungkin beliau khawatir melihat keadaanku sepintas tadi. Setelah sampai kamar,aku duduk di kursi di depan jendela tanpa mengganti baju atau apalah itu. Aku hanya menatap hujan dengan penuh benci,air mata yang berlinang dan badan yang basah sebasah-basahnya lalu terbengong.

Ya,akulah salah satu dari segelintir orang yang membenci hujan. Semua orang biasa memanggilku Rain,kependekan dari Raina Putri. Saat orang mendengar namaku,pasti akan berpikir bahwa aku menyukai hujan. Memang,aku memang pernah mencintai hujan tapi hal-hal yang terjadi setahun yang lalu benar-benar membuatku tidak lagi ingin berdekatan dengannya.

Aku punya tiga alasan,sebutlah tiga poin ceritaku tentang hujan. Hujan yang merengut hidupku.

Satu. Aku kehilangan adik laki-lakiku saat hujan. Pada suatu sore dia mengajakku bermain sepeda di depan rumah,saat kami sedang bermain tiba-tiba turun hujan deras. Aku mengajak adikku masuk tapi dia tidak mau,aku berhenti bermain sepeda lalu aku hanya mengawasinya di teras sedangkan dia bermain sepeda di depan rumah. Rumahku tidak terletak di pinggir jalan raya,tidak pula di real-estate yang mewah. Hanya di semacam jalan yang cukup kecil namun kendaraan roda dua dan empat cukup ramai melewati daerah depan rumahku. Kau pasti bisa menebak apa yang terjadi bukan? Ya,dia tertabrak mobil kijang hitam dengan kecepatan 100 km/jam. Dan aku merasa menjadi orang tertolol yang pernah ada di muka bumi. Bagaimana kau bisa mempercayai anak berusia 8 tahun yang bersepeda di jalan yang cukup ramai? Sejak kejadian itu,papa dan mama selalu menyalahkan aku. Aku tau aku tolol membiarkannya sendiri tapi aku pun shock akan tragedi itu. Aku juga butuh support,aku pun terpukul layaknya mereka. Aku pun tidak menyengaja agar semua ini terjadi,mungkin ini memang takdir Tuhan. Tapi,mereka memang tidak pernah mengerti. Bahkan sekedar belajar mengertiku pun tidak.

Dua. Papa dan mama tidak pernah lagi memberiku kasih sayang,semua pemberian hanya berupa uang,barang,makanan. Tidak ada lagi peluk,cium,ungkapan ‘i love you’ seperti dulu. Dua bulan setelah tragedi itu,papa dan mama pindah ke Australia tanpa mengajakku. Mereka bilang hanya liburan selama seminggu tapi mereka tak pulang-pulang. Selama disini aku tinggal di rumahku lalu bersekolah seperti biasa,masih ada pembantu dan supir yang mengurusku. Aku masih menunggu mereka pulang atau sekedar menelepon untuk menanyakan kabarku. Akhirnya pada bulan kedua setelah mereka pergi,aku sadar bahwa mereka memang tidak ingin lagi berjumpa denganku atau bahasa kasarnya adalah mereka membuangku. Malam itu aku mengemasi barang-barangku,membawa sedikit persediaan makan,minum dan uang lalu pergi dengan harga diriku yang tersisa. Aku memang luntang-lantung malam itu karna pada dasarnya aku tidak mempunyai tujuan. Dan kau tau? Malam itu pun hujan cukup deras,hingga aku berteduh di warung kecil untuk membeli segelas teh hangat. Aku bertemu ibu tua yang lalu memberikanku sebuah kertas kecil berisi alamat kost,tempatku tinggal sekarang.

Tiga. Sebulan yang lalu mama mengabariku dan berkata bahwa mereka rindu padaku. Mereka baru menyadari bahwa tindakan mereka selama ini meninggalkanku itu merupakan suatu kesalahan. Mereka bilang,besok mereka akan berangkat ke Jakarta lalu memulai bab baru denganku,tanpa menengok ke belakang untuk sekedar menyesali masa lalu. Hidup kami akan normal kembali layaknya keluarga bahagia dalam sinetron,aku pun akan pindah dari tempat kost ini. Entah apa salahku sehingga hujan sangat senang mengobrak-abrik hidupku,mengoyak harap dan mimpiku. Pesawat yang ditumpangi mereka terbang dalam keadaan buruk,hujan deras di luar yang membuat pesawat sedikit limbung dan adanya kabut tebal dan ya,pesawat mereka jatuh. Tak seorang pun selamat,begitu pula dengan kedua orang tuaku. Sejak saat itu aku amat amat sangat membenci hujan,wajar kan? Hujan hanya membawa kesialan.

Namun,2 minggu yang lalu seorang laki-laki bernama Delon menyatakan cinta padaku di tengah hujan deras. Aku mulai berpikir bahwa Delon adalah rencana indah Tuhan. Dibalik suatu kesulitan pasti ada kebahagiaan. Sejak itu,Delon adalah pelangi dalam kabut gelapku. Orang yang membawa warna-warna baru kebahagiaan di tengah hidupku yang kelabu. Dan dia pula orang yang membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada hujan.

“Raina,maaf ibu masuk kamar Rain gak izin dulu. Ibu khawatir”. Ucapan seseorang membuyarkan segala lamunanku. Aku kaget lalu menoleh ke belakang,ibu kostku sudah ada di ambang pintu kamarku. Dia menutup pintu kamar lalu berjalan menghampiriku. Dia duduk disebelahku. Aku hanya tersenyum tipis yang sedikit dipaksakan.

“Kamu kenapa nak? Belakangan ini ibu bahagia banget liat Rain bisa bahagia,bisa senyum tapi kenapa sekarang Raina begini lagi?”. Aku segera memeluknya erat sambil menangis,dialah orang yang kuanggap mamaku,yang kuanggap penyemangat hidupku semenjak setahun lalu aku kehilangan orang tua asliku.

Aku menceritakan kejadian hari ini pada bu Tita,ibu kostku ini. Saat aku datang ke kost Delon tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Niatku untuk memberinya surprise karna aku membawakan puding cokelat favoritnya namun ternyata akulah yang kaget. Aku melihat kekasihku sedang memeluk seorang gadis dengan erat,tangannya dengan lihai menyibakkan poni pendek dari keningnya lalu mencium kening gadis itu. Gadis itu memang cantik,kulit langsat dan rambut hitam yang tergerai sangatlah cocok dengan tubuhnya yang sedikit lebih berisi dariku. Matanya bersinar memancarkan kebahagiaan,wajar menurutku apabila Delon mencintai gadis cantik itu.

Tak kuat lagi membendung air mata,tidak sengaja aku menangis pelan di depan pintu kamar Delon. Mereka melihatku,gadis itu melihatku dengan tatapan aneh dan bingung sedangkan Delon,dia melihatku dengan tatapan menyesal dan sedikit bingung dengan semua ini. Aku pun berlari keluar dari tempat itu,kuharap Delon akan mengejarku,meminta maaf,menjelaskan bahwa ini hanya salah paham,memohon maafku hingga bersujud. Namun ternyata tidak,tidak ada siapapun menyusuri langkahku dari belakang. Hanya terdengar suara hujan yang memang sedang turun dengan cukup deras,seakan-akan menertawaiku bahwa dia berhasil menghancurkan hidupku yang mulai ku tata kembali. Ku putuskan bahwa hujan akan kembali menjadi lawanku.

Bu Tita memelukku erat,seakan dia bisa merasakan luka yang kurasakan. “Nak,semua masalah harus diselesaikan secara baik-baik. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat kamu nak,jangan sedih ya. Jangan salahin hujan,jangan juga salahin diri kamu sendiri. Ini semua Cuma kebahagiaan kamu yang tertunda”

“Terus sekarang Raina harus apa bu? Raina bingung,apa yang harus Raina lakuin?”jawabku terisak.

“Yakinin di hati kamu,kebahagiaan apa yang mau kamu raih? Usahakan agar keinginan kamu terpenuhi,agar Rain bahagia lagi”.

“Raina mau bisa kumpul sama Papa,Mama sama adenya Raina bu. Waktu masih ada mereka,Raina bahagia. Raina mau usaha biar keinginan Raina terpenuhi. Raina sayang ibu selamanya,makasih atas semuanya bu”.

Aku segera berjalan cepat ke balkon lalu melemparkan tubuhku sendiri ke bawah. Terdengar suara ibu Tita berteriak histeris memanggil namaku. Suara dentuman keras mengakhiri jatuh bebasku dari lantai tiga dan ada suatu nyeri yang amat sangat pada bagian punggungku. Pandanganku mulai buram sedikit demi sedikit,nafasku mulai melemah.

Hal terakhir yang kutahu,aku mendengar salah seorang teman kostku menelpon ambulans dan aku melihat wajah bu Tita yang membuatku nyaman. Dia duduk di tanah lalu membopong kepalaku di pahanya. Ia berteriak meminta tolong,ia menangisiku.

“Bu,aku bahagia nanti bisa kumpul lagi sama keluarga. Rain juga udah gak benci hujan. Ibu jangan sedih,Raina bahagia ko. Raina sayang ibu”ucapku terbata-bata lalu mendadak pandanganku menghitam,gelap. Dan sore itu,kisahku dengan hujan pun berakhir.