Segelas,dua gelas dan akhirnya tiga gelas kopi.
Malam ini kopi adalah sahabatku.
Aku adalah anti kopi.
Tapi demi kau,aku mau.
Detik berganti menit.
Menit menjadi jam.
Apa yang ku tunggu tak datang.
Padahal ku harap kau datang dengan senyummu.
Memakai pakaian ala pangeran dalam dongeng.
Sambil mengendarai kuda yang gagah.
Lalu kau menjemputku.
Dan kita berdua berbahagia menuju kota cinta.
Aku hanya tersenyum menatap mata tajammu yang penuh pancaran cinta.
Haha bahkan sang bulan sabit beserta bintang pun iri melihat kita berdua.
Dan aku memelukmu erat seakan takut kehilanganmu lagi.
Namun itu hanya mimpi klise.
Kau tak datang malam ini dan malam sebelumnya.
Apa kau tak rindu bayangku?
Dan pada akhirnya tiga gelas kopi menjadi tak berguna lagi.
Tiga gelas itu hanya membantuku menorehkan huruf per huruf,kata per kata,bait per bait dan akhirnya menjadi paragraf butut ini yang menari-nari dalam mimpiku.
Baguslah jika mimpi itu adalah mimpi indah saat aku berkejaran dengan angin dan ditertawai sang pelangi.
Tapi mimpiku buruk.
Mimpi bahwa aku hanya menangis kesepian,sendirian sambil berusaha membenahi hati yang rusak.
Tolong aku.
oh tiga gelas kopi,maaf kau tak berguna malam ini.